Tuesday, October 11, 2005

Jodoh Dan Kedewasaan Kita

Jodoh adalah problema yang serius, terutama bagi para muslimah. Kemanapun mereka melangkah, pertanyaan-pertanyaan ‘kreatif‘ tiada henti membayangi. Bila aku akan menikah? Aku rindu seorang pendamping, namun siapa? Aku iri melihat wanita muda menggendong bayi, bilakah giliranku dipanggil ibu? Aku jadi ragu, benarkah aku mempunya jodoh? Atau jangan-jangan Tuhan berlaku tidak adil?

Jodoh serasa mudah diucap, tapi rumit dalam realiti. Kebanyakan orang ketika
berbicara soal jodoh selalu bertolak dari sebuah gambaran ideal tentang kehidupan rumahtangga. Secara automatik dia lalu berfikir serius tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala sedu-sedan pembicaraan soal jodoh itu berawal.

Pada mulanya, kriteria calon hanya menjadi 'sebahagian dari masalah', namun
kemudian justeru menjadi inti permasalahan itu sendiri.

Disini orang berlumba-lumba mengajukan ‘standardisasi’ calon: wajah rupawan, berpendidikan tinggi, wawasan luas, orang tua kaya, profesi mapan, latar belakang keluarga harmonis, dan tentu saja kualiti keshalihan.

Ketika ditanya, haruskah seideal itu?
Jawabnya mudah, "Apa salahnya? Ikhtiar tidak apa, kan?"
Memang, ada juga jawapan lain, " Saya tidak pernah menuntut. Yang penting bagi saya calon yang sholeh saja." Sayangnya, jawapan itu diucapkan ketika urat-urat keriput mulai menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar senyum pun mahal.

Tidak ada satu pun dalih, bahawa peluang jodoh lebih cepat didapatkan oleh
mereka yang memiliki sifat superior ( serba unggul ). Memperhitungkan kriteria calon memang sesuai sunnah, namun kriteria tidak pernah menjadi penentu sukar atau mudahnya orang menikah. Pengalaman realiti yang dialami kerap kali menjungkirbalikkan prasangka-prasangka kita selama ini.

Jodoh, jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung pada kedewasaan kita.
Ramai orang merintih pilu, menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah,
sekaligus menuntut keadilanNya. Namun prestasi terbaik mereka hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput kehidupan rumahtangga.

Mereka bayangkan kehidupan rumahtangga itu indah, bahkan lebih indah dari film- film ala bintang Hindi, Sahrukh Khan. Mereka tidak memandang bahawa kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh liku dan ujian, diperlukan nafas kesabaran panjang, kadang kegetiran mampir susul-menyusul. Mereka hanya siap menjadi raja atau ratu, tidak pernah menyiapkan diri untuk berletih-letih membina keluarga.

Kehidupan keluarga tidak berbeza dengan kehidupan individu, hanya dalam soal ujian dan beban jauh lebih berat. Jika seseorang masih single, lalu dibuai penyakit malas dan manja, kehidupan keluarga macam apa yang dia impikan?

Pendidikan, persekitaran, dan media membesarkan generasi muda kita menjadi manusia-manusia yang rapuh. Mereka sangat pakar dalam memahami sebuah gambar kehidupan yang ideal, namun lemah semangat ketika didesak untuk meraih keidealan itu dengan pengorbanan. Jika harus ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya. Adapun mereka hanya cukup dengan bergoyang kaki. Kesukaran itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari siapa pun.

Bagaimana mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh, jika kita tidak pernah siap untuk itu?
" Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sekadar sesuai kesanggupannya. "
Q.S Al-Baqarah : 286

Disebalik fenomena"lewat nikah" sebenarnya ada bukti-bukti kasih sayang Allah SWT.

Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu akan datang tanpa harus
dirintihkan. Kala itu hati seseorang telah bulat utuh, siap menerima realiti
kehidupan rumahtangga, manis atau getirnya, dengan lapang dada. Jangan
pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namun bertanyalah, sudah dewasakah aku?

Renungkan hadith ini : " Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan
isterinya dan begitu pula dengan isterinya, maka Allah memperhatikan mereka
dengan penuh rahmat, manakala suaminya menggenggam telapak tangan isterinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami isteri itu dari sela jemarinya " Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi' dari Abu Sa'id Alkhudzri r.a.

Wallahua'lam Bisshawaab




Hidup yang tidak memiliki tujuan
jauh lebih menakutkan daripada
hidup yang tidak mencapai tujuan.

No comments: